Menanamkan Kemahuan Yang Kuat


Peringatan daripada Allah cukup sempurna dan lengkap, tinggal lagi kita yang tidak mahu memerhatikan dan mendekati kebenaran yang diturunkan. Apabila diajak untuk bersama-sama memerhatikan dan mengambil pelajaran, ada golongan yang enggan dan tidak mahu. Adakah kita termasuk dalam golongan itu? Ada pula suara-suara yang berbunyi di belakang, "aku bukan taknak kebaikan ini, tetapi ustaz-ustaz yang aku jumpa semua tak berkaliber, tak mencapai tahap guru yang aku harapkan." Tak kurang ada yang berbunyi, "kalau mereka ajak aku sungguh-sungguh, sudah tentu aku nak ikut", "malaslah aku nak sertai kumpulan-kumpulan baik ini, aku tak layak. Nantilah, bila ada orang yang sesuai dengan aku, aku ikutlah."

Hidup kita ini tidak panjang, singkat. Kematian itu sangat dekat. Jika ditakdirkan tiba-tiba kita dicabut nyawa oleh Allah, adakah alasan-alasan di atas berguna untuk menjadi benteng diri kita di hadapan Allah? "Ya Allah, bukan aku taknak ikut peringatan-Mu, tetapi peringatan itu tidak sampai kepadaku dalam bentuk yang aku inginkan. Orang-orang yang memberi peringatan tidak bersungguh-sungguh mengingatkan. Mereka tak ajak aku betul-betul".

Renungkan jauh ke sudut hati, adakah kita bersikap benar atau berdusta kepada diri? Kita tidak diajak atau kita yang enggan menerima ajakan? Kita tidak diperingatkan atau kita yang meremehkan peringatan?

Daripada kisah Abdullah Ummi Makhtum, seorang sahabat buta yang tinggi darjatnya di sisi Allah dan Rasul SAW, kita belajar erti kemahuan yang tinggi untuk mendapatkan kebenaran dan peringatan daripada Allah. Ketika beliau mendatangi Rasulullah SAW untuk mendapatkan peringatan, beliau datang dengan hati yang tulus ikhlas untuk menyucikan diri. Demikian dirakamkan oleh Allah dalam Surah 'Abasa,

"Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui (tujuannya, wahai Muhammad)? Barangkali ia mahu membersihkan hatinya (dengan pelajaran ugama yang didapatinya daripadamu)! Ataupun ia mahu mendapat peringatan, supaya peringatan itu memberi manfaat kepadanya." ('Abasa: 3-4)

Keinginan itu yang dipandang oleh Allah dan diberikan perhatian serius berbanding ketinggian pangkat yang dimiliki oleh pembesar-pembesar Quraisy. Walaupun beliau bukan daripada golongan atasan, namun ketulusan hatinya untuk menerima peringatan Allah itu menaikkan darjatnya di sisi Allah, dan ternyata dia lebih layak mendapatkan peringatan itu berbanding orang-orang yang sombong dan merasa cukup.

Kita jangan jadi seperti orang yang merasa cukup dan tidak perlu kepada peringatan Al-Quran. Lalu kita memperlekehkannya dan tidak berhajat kepada peringatannya. Kita tidak peduli kepada orang-orang yang sentiasa mengajak kita kepada kebaikan dan mengkaji kebenaran. Takut-takut kita hanya layak mendapat tempelak yang disebut dalam Surah 'Abasa,

"Adapun orang yang merasa keadaannya telah cukup, tidak berhajat lagi (kepada ajaran Al-Quran), Maka engkau bersungguh-sungguh melayaninya. Padahal engkau tidak bersalah kalau ia tidak mahu membersihkan dirinya (dari keingkarannya)." ('Abasa: 5-7)

Bersungguh-sungguh kita diajak, pun kita menolak. Maka kesalahannya tak patut dibebankan kepada orang-orang yang mengajak, kalau kita seringkali menidakkan. Jangan salahkan ustaz-ustaz yang kita rasakan tak menyampaikan mengikut citarasa kita, jangan salahkan kawan-kawan yang selalu mengajak kita kepada peringatan Al-Quran tetapi tidak mengikut standard ajakan yang kita nak. Kalau SMS sahaja, kita rasa tak cukup, "kenapa tak call?". Kalau ajak ke program pembinaan terlewat sedikit, "kenapa ajak lewat? kalau ajak awal mesti aku dapat sertai." Banyak lagi alasan-alasan dusta untuk menuding kepada orang yang mengajak, padahal permasalahan utama adalah kita yang taknak. Kemahuan kita tak sekuat kemahuan orang yang mengajak.

Malu kita pada Abdullah Ummi Makhtum, yang buta matanya tetapi bukan hatinya. Petunjuk itu ada di sekeliling kita. Peringatan itu sangat banyak boleh kita usahakan dan dapatkan, kita bahkan selalu memberi alasan bahawa kita belum mendapat petunjuk untuk melalui jalan kebenaran, padahal kita yang enggan mengusahakannya. Kita yang tidak bersegera untuk mendapatkan peringatan seperti Abdullah Ummi Makhtum, sepertimana Allah gambarkan dalam Surah 'Abasa,

"Adapun orang yang segera datang kepadamu, Dengan perasaan takutnya (melanggar perintah-perintah Allah)" ('Abasa: 8-9)

Bersegeralah mendapatkan peringatan, dalam keadaan kita takut kepada Allah. Itulah prasyarat untuk membolehkan kita layak menerima peringatan-peringatan Allah. Selagimana kita tidak punya kemahuan yang kuat untuk mendapatkan pelajaran daripada peringatan Allah, selagi itu peringatan itu tidak berguna pada kita. Kita yang perlu membuka hati untuk menerima kebenaran, jangan salahkan orang lain ketika kita menutup hati rapat-rapat.

Muhasabah diri sendiri, adakah kita sudah benar-benar tulus ingin menyucikan diri sepertimana keadaan Abdullah Ummi Makhtum ketika beliau bertemu Rasulullah? Adakah kita bersegera menuju kepada peringatan-peringatan Allah dalam keadaan takut kepada Allah? Jika kita merasa tidak bersalah ketika kita mengabaikan peringatan-peringatan yang datang, sering meremeh-remehkan orang yang mengajak kita kepada kebaikan, kita sebenarnya jauh daripada proses perubahan. Jauh daripada proses penyucian hati. Bagaimana mungkin pembinaan diri akan berlaku dalam keadaan kita mengharapkan orang lain bersungguh-sungguh menyucikan hati yang kita tutup rapat-rapat daripada menerima peringatan Allah?

Hakikatnya, kita yang akan dipersoalkan di akhirat kelak tentang tindakan kita. Kemahuan harus datang daripada dalam diri kita sendiri untuk berubah mengikut petunjuk dan peringatan daripada Allah. Kemahuan itu harus kuat, menjangkaui keterbatasan yang ada. Sepertimana buta tidak menghalang Abdullah Ummi Makhtum untuk berusaha mendapatkan kebenaran, seperti itu juga kekurangan-kekurangan yang ada pada kita tidak harus dijadikan alasan untuk kita tidak bersungguh-sungguh membina diri berdasarkan acuan Ilahi.

Dengan kemahuan yang tidak seberapa, tak berguna peringatan sehebat mana. Namun, dengan kemahuan yang kuat, gunungpun mampu kita pindahkan!

Comments

Popular posts from this blog

Bila Yang Dikejar Itu Dunia

Manusia Sengal

Begin with the end in mind