Loncatan

Hidup ini bukan sebuah perjalanan yang lurus, rata dan dekat. Semua orang tahu. Ada kala kita harus memanjat cuma satu anak tangga, ada kali kita perlu meloncat tinggi untuk menggapai tebing. Siapapun kita, tetap akan ada kepayahan yang bakal menjengah. Suatu fasa hidup yang payah suatu ketika dahulu mungkin tak lagi mengganggu hidup kita hari ini. Suatu yang payah hari ini, tak akan kekal menghantui. Apa yang dulunya realiti hari ini menjadi memori. Apa yang dulunya teori hari ini menjadi realiti.

Allah telah mengeluarkan kita, daripada rahim ibu. Sebelumnya Dia yang menyusun tubuh kita mengikut kehendak-Nya. Kemudian Dia membesarkan kita, memelihara kita sehingga kita boleh membaca tulisan ini. Dalam kita mengeluh akan payahnya musibah yang sedang kita hadapi, Dia telah membebaskan kita daripada sekalian banyak masalah yang menimpa di masa silam. Dia yang mengeluarkan kita daripada kegelapan dulu juga berkuasa mengeluarkan kita daripada kegelisahan hari ini.

Masa, telah mengancam kesabaran kita. Kita inginkan banyak perkara, dan kita inginkan segera. Terkadang kita lupa elemen masa sebagai rencah dalam sebuah kemenangan. Kita lupa masa adalah sebahagian besar daripada hidup kita. Selagi belum tiba masa sesuatu itu terjadi, ia akan tertangguh. Bagi setiap umat ada ajalnya, begitu pula bagi setiap jiwa. Kita bertanggungjawab memberikan yang terbaik dalam setiap sela masa yang berlalu, namun hanya Allah yang menentukan dan mengizinkan apa yang akan berlaku pada setiap detik waktu.

Di sisi Allah ada ketentuan, di sisi manusia ada kesempatan. Kesempatan yang diberikan oleh Allah sekelumit cuma untuk melalui ketentuan-ketentuan-Nya yang tersimpan. Kesempatan untuk mengenali-Nya dan mengorak langkah menuju-Nya. Kita tak akan pernah tahu bagaimana kesudahan yang ditentukan untuk kita. Namun, kita tahu apa yang sedang kita kerjakan sekarang dan apakah ia suatu yang bertepatan dengan kehendak Tuhan.

Terkadang kita hilang arah tujuan kerana hanyut dengan godaan. Pedoman itu telah ada dan akan sentiasa ada, cuma tinggal kita yang harus berpaut teguh dan berdiri utuh mempertahankannya. Selagi kita tidak kembali, selagi itulah kehidupan akan terus menjauh dari Ilahi. Semua manusia ingin ketenangan walaupun saban hari kita berlari jauh dari sumbernya. Semua manusia ingin kebahagiaan abadi sedang kita saban hari berbuat perkara yang menarik kita lebih jauh.

Ketika matlamat semakin rancu dalam hidup, ketika samar dan gusar membenamkan jiwa-jiwa yang besar, ketika hati terasa selalu gelisah dan goyah, ketika masa yang tersisa terasa begitu singkat, sudah masanya kita meloncat menggapai tebing, mengharap pada Allah yang menghidupkan dan mencukupkan.

Wallahua'lam.

Comments

Popular posts from this blog

Bila Yang Dikejar Itu Dunia

Manusia Sengal

Begin with the end in mind